Rabu, 12 Maret 2008

Kutempel Sajak “Tukang Rambutan” di Koridor Sastra

Awal Januari 1998, Krisis ekonomi mencapai puncaknya. Rush dimana-mana. Rakyat di kaki-kaki lima menjerit dan selalu bertanya kepadaku ketika mereka tahu aku mahasiswa. “Kapan mahasiswa demo nih, harga-harga naik terus”. Tapi, aksi mahasiswa UI belum bergerak. Aku pun menemukan sebait puisi dari Taufik Ismail tentang aksi mahasiswa 1966.

Aku tersentuh. Fotokopi dan kutempel di koridor sastra….

SEORANG TUKANG RAMBUTAN PADA ISTRINYA

Oleh: Taufiq Ismail

“Tadi siang ada yang mati, Dan yang mengantar banyak sekali
Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu.
Anak-anak sekolahYang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!
Sampai bensin juga turun harganya
Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula
Mereka kehausan dalam panas bukan main
Terbakar muka di atas truk terbuka
Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu
Biarlah sepuluh ikat juga
Memang sudah rezeki mereka
Mereka berteriak-teriak kegirangan dan berebutan
Seperti anak-anak kecil “Hidup tukang rambutan! Hidup tukang rambutan”
Dan menyoraki saya. Betul bu, menyoraki saya
Dan ada yang turun dari truk, bu
Mengejar dan menyalami saya “Hidup pak rambutan!” sorak mereka
Saya dipanggul dan diarak-arak sebentar“Hidup pak rambutan!” sorak mereka
“Terima kasih, pak, terima kasih!
Bapak setuju kami, bukan?”
Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara
“Doakan perjuangan kami, pak,”
Mereka naik truk kembali
Masih meneriakkan terima kasih mereka
“Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!”Saya tersedu, bu.
Saya tersedu
Belum pernah seumur hidup
Orang berterima-kasih begitu jujurnya
Pada orang kecil seperti kita.
1966

L’Histoire se repete. Sejarah pun berulang.

Di tahun 1998, saat kami bergerak dengan ke DPR dari Depok, para tukang korang pun berteriak, “Hidup Reformasi!, Hidup Mahasiswa!”. Bus-bus kota dari terminal Depok pada Senin 19 Mei 1998 tak henti-hentinya masuk ke kampus UI Depok untuk mengangkut ribuan mahasiswa yang akan menduduki DPR. Siapa yang membayar bus-bus itu? Yang jelas, kami, tak sanggup membayarnya…..tapi bus-bus itu terus masuk ke kampus dan mengantar kami ke DPR. Sampai di DPR, kami hanya berucap “Thank you” dan sang supir pun
membalas senyum